PERANAN HISAB DAN RUKYAT DALAM PENENTUAN AWAL BULAN QAMARIYAH

A. PENDAHULUAN

Bagi umat Islam, penentuan awal bulan qamariyah merupakan suatu hal yang sangat penting dan sangat diperlukan ketepatannya, sebab pelaksanaan ibadah dalam ajaran Islam banyak dikaitkan dengan sistem penanggalan ini. Permasalahan penentuan awal bulan qamariyah, dari berbagai aspeknya, selalu menarik untuk dikaji, khususnya tentang penentuan awal Ramadhan, Syawal, dan tanggal 10 Zulhijjah. Seringkali timbul pertanyaan di kalangan masyarakat manakala terjadi perbedaan dalam penentuannya. Sejak zaman Rasulullah sampai sekarang ini, praktek penentuan awal bulan qamariyah, khususnya awal Ramadhan dan Syawal, sudah rutin dilakukan oleh umat Islam, dan sistem perhitungannya pun telah mengalami perkembangan. Perkembangan tersebut terjadi karena timbulnya bermacam-macam penafsiran terhadap ayat al-Quran dan Hadis Nabi serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di dalam masyarakat ada dua sistem yang dipakai untuk menentukan awal bulan qamariyah pada umumnya, yaitu sistem hisab dan sistem rukyat. Sistem hisab adalah penentuan awal bulan qamariyah yang didasarkan pada perhitungan lamanya peredaran bulan mengelilingi bumi. Sedangkan rukyat adalah usaha untuk melihat bulan sabit (hilal) ke arah matahari terbenam pada waktu terbenamnya matahari pada akhir bulan qamariyah. Sering dinyatakan oleh para ahli bahwa dalam penentuan awal bulan qamariyah tidak ada diantara kedua metode tersebut yang dapat berdiri sendiri. Keduanya dinyatakan seiring dan saling melengkapi dalam operasionalnya. B . SISTEM QAMARIYAH DAN DASAR LEGALITASNYA DALAM ISLAM Sejak awal peradaban, manusia telah membagi waktu ke dalam beberapa periode, seperti hari, minggu, bulan, dan tahun. Pada awalnya, sistem yang mereka gunakan sangat sederhana. Pembagian waktu menjadi hari, bulan, dan tahun adalah berdasarkan peristiwa- peristiwa astronomis, sedangkan pembagian waktu menjadi jam dan minggu merupakan pembagian berdasarkan rekaan atau artifisial. Bilangan hari dalam setahun ditandai dengan musim banjir, musim semi, musim gugur dan musim dingin. Bilangan bulan ditandai dengan lamanya bulan bisa dilihat, dan bilangan minggu ditandai dengan siklus hari pasar. Pembagian waktu tersebut diperlukan untuk kepentingan kehidupan keagamaan, kehidupan ekonomi, dan kehidupan sehari-hari lainnya. Metode pembagian waktu seperti diatas disebut dengan kalender yang diambil dari bahasa Yunani “calendae” , atau dalam bahasa Arab disebut tarikh atau taqwim. Kalender merupakan kebutuhan masyarakat agraris sebagai checkpoint bagi pelaksanaan pertanian dan kebutuhan masyarakat urban untuk mengorganisir dan mengkoordinir kegiatan-kegiatan mereka. Ada tiga macam sistem kalender yang berkembang, pertama lunar calendar (taqwim qamariyah), yaitu sistem kalender berdasarkan fase-fase bulan mengililingi bumi, yang lamanya rata-rata 29,53 hari. Kedua, solar calendar (taqwim syamsyiyah), yaitu sistem kalender berdasarkan gerak bumi mengelilingi matahari yang lamanya rata-rata 365,25 hari. Ketiga, lunar-solar calendar (taqwim qamariyah-syamsyiyah) yang merupakan kombinasi dari kedua sistem diatas. Sistem kalender yang terakhir ini menetapkan satu bulan rata- rata 29,5 hari dan satu tahun lamanya rata-rata 12 bulan atau 12 x 29,5 hari = 354 hari. Masyarakat Mesir Kuno menganut sistem lunar dalam perhitungan kalender mereka. Akan tetapi, karena keterbatasan ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka belum memperhitungkan secara cermat berapa lama fase bulan mengelilingi bumi, sebagaimana disebutkan diatas. Awal bulan ditentukan dengan cara menyaksikan “bulan” (rukyat) pada akhir bulan sebelum terbit matahari. Apabila bulan tua tersebut tdak dapat dilihat, maka esok harinya adalah awal bulan yang baru. Masyarakat Arab pra-Islam juga menganut sistem lunar (qamariyah) dalam penetapan kalender mereka, seperti yang dianut oleh masyarakat Mesir kuno tersebut. Setiap akhir bulan, diantara mereka berusaha untuk melihat bulan muda. Apabila terlihat, mereka meneriakkan kata-kata “hilal” sebagai penghormatan terhadap kedatangan dewa mereka, dan setelah itu merekapun melakukan upacara ritual. Itulah sebabnya bulan muda yang berbentuk sabit itu disebut hilal. Disamping itu, masyarakat Arab pra-Islam menganut sistem yang terkenal dengan nama Nasi-a, yaitu sistem yang mengusahakan agar bulan Zulhijjah jatuh pada musim tertentu dengan cara menambah dan mengurangi perhitungan. Penentuan awal bulan berdasarkan pengalaman bahwa setelah umur bulan genap 30 hari, kemungkinan besar hilal dapat dilihat, dan setelah umur bulan 29 hari kadang-kadang hilal dapat dilihat karena umur bulan rata-rata adalah 29,5 hari. Oleh karena itu, umur bulan digenapkan menjadi 29 hari atau 30 hari. Metode tersebut selanjutnya dipakai dalam Islam untuk pelaksanaan ibadah umat Islam, karena mendapat legalitas dari ayat- ayat al-Quran maupun hadits Rasulullah Saw. Dasar legalitas tersebut, antara lain, adalah: a. Firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 185: فمن شهد منكم الشهر فليصمه “Barang siapa diantara kamu yang menyaksikan bulan maka berpuasalah.” b. Firman Allah SWT dalam surat Yunus ayat 5: هو الذي جعل الشمش ضياء و القمر نورا و قدره منازل لتعلموا عدد السنين والحساب “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan ditentukannya manzilah-manzilahnya supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan hisab”. c. Sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah: فصوموا لرؤيته وافطروا لرؤيته وإن غم عليكم فاقدروا له ثلاثين “Berpuasalah kamu karena melihat bulan dan berbukalah kamu karena melihatnya. Jika bulan tersebut tertutup awan maka sempurnakanlah hitungan bulan Sya‟ban 30 hari” d. Sabda Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh an-Nasa-i dari Abu Hurairah: فصوموا لرؤيته وافطروا لرؤيته وإن غم عليكم فاقدروا له “Apabila kamu melihatnya berpuasalah, dan jika kamu melihatnya berbukalah. Jika kamu tidak dapat melihatnya (karena tertutup awan) maka sempurnakanlah hitungan” Ayat serta hadis diatas mengandung pengertian yang mudah dapat dipahami oleh orang-orang yang memiliki persepsi sederhana. Makna yang lebih dalam akan dapat ditangkap oleh orang-orang yang memiliki kebudayaan yang lebih maju. Akan tetapi, dengan semakin majunya kebudayaan, yang mengakibatkan penentuan awal bulan qamariya menggunakan sistem yang lebih canggih, maka di kalangan ahli hukum Islam (fuqaha) timbul perbedaan pendapat mengenai penentuan awal bulan qamariyah yang berkaitan dengan hukum, khususnya awal Ramadhan dan Syawal, serta tanggal 10 Zulhijjah. C. SISTEM HISAB DAN PEMBAGIANNYA Ilmu hisab adalah salah satu cabang ilmu astronomi terapan yang membahas tentang penentuan waktu-waktu ibadah menurut ajaran Islam dengan cara menghitung (mengukur) posisi matahari dan bulan di bola langit. Meskipun sistem ini diperselisihkan kebolehan penggunaannya dalam menetapkan awal bulan yang ada kaitannya dengan pelaksanaan ibadah, sistem ini adalah mutlak diperlukan dalam menetapkan awal-awal bulan, khususnya untuk kepentingan penyusunan kalender. Ada dua sistem hisab yang dipergunakan untuk menentukan awal bulan qamariyah, yaitu hisab „urfi dan hisab haqiqi. Hisab „urfi menetukan awal bulan berdasarkan perhitungan bahwa umur bulan ganjil (bulan ke-1, ke-3, ke-5, dst.) adalah 30 hari dan umur bulan genap (bulan ke-2, ke-4, ke-6, dst.) adalah 29 hari. Dasar metode ini adalah bahwa umur rata-rata setiap bulan adalah 29,5 hari. Untuk memudahkan perhitungan, umur bulan yang pertama ditetapkan 30 hari, dan bulan kedua 29 hari. Umur kedua bulan tersebut adalah 59 hari sebagai kelipatan dari 29,5 hari. Hisab haqiqi menentukan awal bulan berdasarkan posisi “bulan” pada akhir bulan. Menurut metode ini, untuk menentukan awal bulan diperhitungkan lebih dahulu posisi rata-rata matahari dan bulan dan kecepatan rata-rata gerakannya pada akhir bulan. Kemudian dicari posisi dan kecepatan keduanya pada akhir bulan tersebutdengan cara mengoreksi posisi rata-ratanya, dan setelah itu barulah ditentukan tinggi hilal. Hisab hakiki, sebagaimana disebutkan, dapat dibedakan lagi kepada tiga kategori, yaitu hisab hakiki takribiy, hisab hakiki bi tahqiq, dan hisab hakiki kontemporer. Hisab hakiki takribiy adalah hisab hakiki yang metoda koreksinya tidak begitu halus, dan metoda penentuan tinggi hilalnya jauh dari kesempurnaan. Sebab untuk menentukan tinggi hilal di atas ufuk tidak dihitung secara teliti, tetapi hanya dengan cara membagi dua waktu antara ijtima‟ dengan waktu ghurub matahari. Asumsinya adalah bahwa rata-rata bulan bergerak ke arah timur meninggalkan matahari sebesar setengah derajat setiap jam. Hisab hakiki bi tahqiq adalah hisab hakiki yang telah menggunakan teori-teori astronomi modern, matematika, dan hasil observasi baru. Metode koreksinya lebih teliti daripada hisab hakiki yang pertama. Koreksi dilakukan hingga lima kali. Disamping itu, untuk menentukan tinggi hilal, posisi hilal di atas ufuk diperhitungkan dengan menggunakan daftar geniometri dan logaritma. Yang terakhir, hisab hakiki kontemporer, adalah hisab hakiki yang metodenya sama dengan hisab hakiki bi tahqiq. Akan tetapi koreksinya jauh lebih teliti, karena dilakukan lebih dari seratus kali. Demikian juga, diperhitungkan pengaruh cuaca dan pembelokan cahaya (refraksi) dengan teliti. Sarana yang digunakan adalah komputer. Metode ini menggunakan data-data hasil penelitian pusat- pusat astronomi di negara-negara Barat dan literatur astronomi modern. D. PERAN HISAB DAN RUKYAT DALAM MENENTUKAN AWAL BULAN QAMARIYAH 1. Perbedaan Dalam Menentukan Peran Hisab dan Rukyat. Merujuk kepada dalil tentang rukyat, sebagaimana telah dikemukakan, para ahli fikih berbeda pendapat mengenai kedudukan serta peran hisab dan rukyat dalam penentuan awal bulan qamariyah, khususnya Ramadhan dan Syawal. Sebagian fuqaha‟ berpendapat bahwa penentuan awal bulan qamariyah, khususnya Ramadhan dan Syawal, adalah berdasarkan rukyat hilal. Pendapat ini berdasarkan metode mengqiyaskan hukum bulan selain bulan Ramadhan dan Syawal dengan kedua bulan tersebut yang berdasarkan hadis Nabi tentang rukyat, dan adat kebiasaan masyarakat Arab. Fuqaha‟ lainnya berpendapat bahwa penentuan awal bulan selain Ramadhan dan Syawal adalah berdasarkan hisab „urfi atau hisab haqiqi, sebagaimana diisyaratkan oleh Al-Quran. Pendapat-pendapat tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut: a. Kelompok pertama adalah mereka yang memberikan kedudukan serta peran utama bagi rukyat dengan “mata telanjang”, dan mengkesampingkan sama sekali peran hisab. Termasuk kelompok ini adalah fuqaha‟ Malikiyah, Hanafiyah, Hanabilah, dan pengikut Ibnu Hajar dari kalangan Syafi‟iyah. Menurut kelompok ini, rukyat dapat diterima meskipun bertentangan dengan perhitungan hisab, sekalipun cuaca mendung. Hisab sama sekali tidak dapat dijadikan pedoman bagi orang awam, kecuali hanya bagi ahli hisab saja. Menurut mereka, puasa berdasarkan hisab adalah tidak sah. Kaum Hanabilah dan Hanafiyah berpendapat bahwa rukyat berlaku untuk seluruh dunia. Sedangkan menurut pengikut Ibnu Hajar, rukyat hanya berlaku untuk wilayah seluas satu mathla‟ (80 km atau sejauh delapan derajat busur, atau delapan menit perbedaan waktu). b. Kelompok kedua memberikan kedudukan serta peran utama kepada rukyat dan peran hisab adalah sebagai pelengkap. Termasuk kelompok ini adalah pengikut Imam al-Ramli dari golongan Syafi‟iyah. Menurut kelompok ini, ketetapan ilmu hisab berlaku bagi ahli hisab dan orang-orang yang membenarkannya. Mereka berpendapat bahwa hisab hanya sebagai alat pembantu, sedangkan rukyat adalah sebagai penentu. c. Kelompok ketiga memberikan kedudukan serta peran utama kepada hisab, dan peran rukyat adalah sebagai pelengkap. Menurut kelompok ini, rukyat dapat diterima bila tidak bertentangan dengan hisab. Apabila ahli hisab berkesimpulan bahwa hilal mungkin dapat dilihat jika tidak terhalang mendung atau partikel lainnya, maka hari berikutnya merupakan awal Ramadhan atau Syawal. d. Kelompok keempat adalah kelompok yang memberikan kedudukan serta peran utama kepada hisab, mengkesampingkan sama sekali kedudukan serta peran rukyat dalam penentuan awal Ramadhan dan Syawal. Sebagian kelompok ini berpendapat bahwa dasar penentuan awal Ramadhan adalah wujudnya hilal, sementara sebagian yang lain berpendapat bahwa penentuan kedua bulan tersebut adalah imkanur rukyah dengan kriteria umur bulan 14 jam, lama hilal dapat dilihat 42 menit, tinggi hilal 05 derajat dengan sudut sinar 08 derajat, tinggi hilal 02 derajat dengan umur 08 jam. Di dalam praktek, hisab tidak dapat dikesampingkan sama sekali, sebab untuk rukyat tersebut dibutuhkan pedoman, dan penentuan umur bulan sebanyak 29 hari tidak dapat dilakukan kecuali dengan hisab. Perbedaan pendapat tersebut, nampaknya, hanya sebatas teori saja sebab praktek masyarakat Islam dan pemerintah pada umumnya menentukan awal bulan berdasarkan hisab, sebab penentuan awal bulan berdasarkan rukyat saja adalah tidak praktis, dan perbedaan- perbedaan penentuan awal Ramadhan dan Syawal di Indonesia disebabkan oleh perbedaan penggunaan sistem hisab tersebut. Ahli fikih dari kalangan Syafi‟iyah sepakat bahwa rukyat hanya berlaku bagi orang yang mengalaminya saja, tidak mengikat kepada orang lain. Atau, dengan kata lain, jika ada seseorang atau beberapa orang berhasil melakukan rukyat untuk menentukan awal Ramadhan atau awal Syawal, maka hanya merekalah yang wajib berpuasa. Menurut golongan ini, rukyat baru mengikat kepada orang lain jika rukyat tersebut telah mendapat pengakuan dan ketetapan dari pemerintah atau qadhi. Sejalan dengan perkembangan intelektual masyarakat, pada awalnya dalam penetapan awal Ramadhan dan Syawal kebanyakan masyarakat terikat oleh penetapan pemerintah yang berkuasa, meskipun dasar penetapan tersebut bertentangan dengan pendapat ulama atau mazhab yang dianutnya. Orang yang telah yakin bahwa bulan Syawal telah mulai, yang berarti haram hukumnya berpuasa pada hari itu, mereka cenderung harus berbuka secara sembunyi- sembunyi agar tidak terang-terangan menentang keputusan pemerintah. Akan tetapi pada masa sekarang, perbedaan dalam praktek penentuan awal Ramadhan ataupun Syawal dan pelaksanaan ibadah yang berkaitan dengan kedua bulan ini sudah menjadi sesuatu yang lumrah terjadi, meskipun ada penetapan pemerintah tentang hal itu 2. Sebab-sebab terjadinya perbedaan. Terjadinya perbedaan dalam penentuan peran hisab dan rukyat untuk menentukan awal bulan qamariyah, khususnya Ramadhan dan Syawal adalah disebabkan Al-Quran tidak memberikan petunjuk penentuan awal bulan Ramadhan dan Syawal tersebut secara detail. Ditambah lagi dengan kenyalnya teks Hadis tentang masalah tersebut sehingga dapat ditafsirkan lebih dari satu, bahkan lebih dari sepuluh arti. Disamping itu juga karena adanya perbedaan tentang apakah penentuan awal kedua bulan tersebut termasuk bidang ta‟abbudi ataukah ta‟aqquli. Elastisitas Hadis tentang rukyat dapat dilihat, antara lain, melalui penjelasan al-Qalyubi bahwa Hadis Rasulullah yang menyebutkan: فصوموا لرؤيته وافطروا لرؤيته وإن غم عليكم فأكملوا sebagaimana telah dikemukakan, mengandung beberapa pengertian, antara lain: a. Bila seseorang berhasil melihat hilal maka hanya dia sendiri yang wajib berpuasa. b. Rukyah berarti melihat dengan anggota badan, yaitu mata. c. Rukyah boleh dilakukan oleh seseorang yang terpercaya („adil) dan dikabarkan kepada orang lain secara mutawatir oleh orang yang terpercaya pula. d. Bila seseorang berhasil melakukan rukyah meskipun bulan tertutup awan (dengan bantuan alat modern -pen) ia dituntut untuk berpuasa. e. Bila wujud bulan memungkinkan untuk dirukyah, wajib berpuasa. f. Apabila seseorang berhasil melihat hilal, kewajiban puasa tidak dikhususkan untuk dirinya saja. Keterangan diatas menjelaskan bahwa teks Hadis yang dikemukakan potensial sekali menimbulkan berbagai pendapat mengenai awal Ramadhan dan Syawal. Masalah lain yang menonjol dalam memahami Hadis tersebut adalah apakah penentuan awal Ramadhan dan Syawal itu termasuk ta‟abbudi ataukah ta‟aqquli. Jika masalah rukyah dianggap ta‟abbudi, maka penentuan awal Ramadhan dan Syawal hanya dapat dilakukan berdasarkan rukyat dengan mata, tanpa menggunakan alat, sesuai dengan lahir Hadis dan praktek Nabi Saw. Hal ini sama artinya dengan menganggap ayat al-Quran dan Hadits yang menyebutkan dasar hukum rukyat tersebut sebagai sesuatu yang qath‟iy dan tidak boleh diinterpretasikan dengan cara lain. Tetapi jika permasalahan tersebut dianggap ta‟aqquli, maka kata-kata “rukyah” dalam ayat maupun Hadis yang telah disebutkan berarti mengandung dugaan kuat (zhann) untuk kemungkinan hilal wujud, dan berarti sudah dapat dirukyat. Oleh karena itu, penentuan awal Ramadhan dapat dilakukan berdasarkan informasi seseorang yang „adil bahwa ia telah melihat hilal dengan matanya sendiri, atau berdasarkan perhitungan ahli astronomi bahwa hilal sudah wujud dan mungkin dapat dilihat, dan pada waktu itu umat Islam sudah punya kewajiban melaksanakan ibadah puasa. E. PENUTUP Metode penentuan awal bulan qamariyah dengan menggunakan sistem hisab dan rukyat, pada kenyataannya, terdapatperbedaan di kalangan masyarakat. Lebih khusus lagi, perbedaan ini mengakibatkan berbeda pula dalam menetapkan tanggal satu Ramadhan dan Syawal, yang berkaitan erat dengan waktu pelaksanaan ibadah puasa bagi umat Islam. Pendapat yang radikal meletakkan peranan mutlak bagi sistem rukyat untuk menentukan awal bulan tersebut tanpa memberi peluang bagi sistem hisab, atau memberikan peran hanya kepada sistem hisab saja dengan mengabaikan rukyat. Pendapat yang lebih lunak meletakkan peran dalam porsi lebih besar kepada rukyat dan mempergunakan hisab sebagai pelengkap, atau sebaliknya. Dalam praktek, masyarakat Islam dan pemerintah pada umumnya, tidak hanya di Indonesia, menentukan awal bulan Ramadhan dan Syawal adalah dengan menggunakan sistem hisab tanpa mengabaikan rukyat untuk penyempurnaan. Sedangkan untuk bulan-bulan selain Ramadhan dan Syawal, peran rukyat hampir tidak ada, ia hanya merupakan teori sebagian ulama saja. Di Indonesia, Nahdhatul Ulama menetapkan bahwa penentuan awal bulan qamariyah selain Ramadhan dan Syawal adalah berdasarkan rukyat, berpedoman kepada kitab Bughyah al- Musytarsyidin. Akan tetapi, ketetapan itu hanya diatas kertas saja, karena sebagian besar ulama dan umat Islam berpedoman kepada kalender Hijriyah yang ditetapkan dan disusun berdasarkan ilmu hisab, baik hisab haqiqi maupun hisab „urfi.

Penetrasi Barat di dunia Islam

BAB I PENDAHULUAN

Penetrasi menurut makna bahasanya adalah memasuki, menerobos atau menembus. Penetrasi Barat di dunia Islam disini akan membicarakan mengapa dan bagaimana langkah-langkah Barat dalam memasuki dunia keislaman baik dalam ideology, pemahaman dan kehidupan masyarakat muslim. Untuk mencari akar kapan dan dari mana dimulainya penetrasi ini, maka kami akan mencoba untuk mengangkatnya dari masa sebelum dan sesudah perang salib.

Masa sebelum perang salib ( Barat mencari jiwa Kristen baru )

Periode yang dikenal dengan abad kegelapan mungkin telah menghancurkan agama Kristen ortodoks di Eropa. Serbuan kaum barbar di abad ke-5 dan ke-6 menghancurkan kekaisaran Romawi disana. Eropa menjadi daerah primitif, reruntuhan periode Romawi menjadi masa lalu yang dimilki ras barbar, yang saat itu memiliki pencapaian yang menakjubkan. Baca lebih lanjut

Pepatah

Untuk membahagiakan seseorang; isilah tangannya dengan kerja, hatinya dengan kasih sayang, pikirannya dengan tujuan, ingatannya dengan ilmu yang bermanfaat, masa depannya dengan harapan, dan perutnya dengan makanan (Frederick E. Crane)

PELAJARAN DARI BUAH-BUAHAN

1. Jadilah Jagung, Jangan Jambu Monyet Jagung membungkus bijinya yang banyak, sedangkan jambu monyet memamerkan bijinya yang cuma satu-satunya. Jangan pamer…kecuali kalo lagi pameran

2. Jadilah pohon Pisang Pohon pisang kalau berbuah hanya sekali, lalu mati. Kesetiaan dalam pernikahan

 

3. Jadilah Duren, jangan kedondong Walaupun luarnya penuh kulit yang tajam, tetapi dalamnya lembut dan manis. hmmmm, beda dengan kedondong, luarnya mulus, rasanya agak asem dan di dalemnya ada biji yang berduri. Walaupun penampakanku kasar tapi aku lembut loh…

4. Jadilah bengkoang Walaupun hidup dalam kompos sampah, tetapi umbinya isinya putih bersih. Jagalah hati jangan kau nodai meskipun…kamu mainnya di tempat sampah, hehehehe…

5. Jadilah Padi Makin berisi, makin merunduk. Tapi awas ada wereng…

6. Jadilah Pohon kelapa Sudah terkenal dengan serba gunanya, tidak bisa di manipulasi (maksudnya kelapa nggak bisa dicangkok)

7. Jadilah tandan Pete, bukan tandan rambutan Tandan pete membagi makanan sama rata ke biji petenya, semua seimbang, ngak seperti rambutan ada yang kecil ada yang gede

8. Jadilah cabe Makin tua makin pedes, makin tua makin judes loh..!!! (baca = bijaksana)

9. Jadilah buah manggis Bisa ditebak isinya dari bokong buahnya, maksudnya jangan munafik…hmmmm

10. Jadilah buah nangka Selain buahnya, nangka memberi getah kepada penjual atau yg memakannya, artinya berikan kesan kepada semua orang (tentunya yg baek)

TIDAK TAU

Parto gembira luar biasa karena setelah dua tahun menganggur akhirnya dia diterima bekerja disebuah perusahaan besar yang memiliki kantor gedung bertingkat.

Pada hari pertama bekerja, dia mendapat ruangan kantor yang lumayan nyaman dan karena kelewat senang dia langsung angkat telepon dan berniat meminta minuman.

Telepon : “Hallo……?”
Parto : ” Hei……. antar kopi ke ruangan saya sekarang juga ya….!!!!”
Telepon : ” Kurang ajar…..!! tahu dengan siapa anda bicara sekarang ini hah…!!!”
Parto : “Tidak….”
Telepon : “SAYA PRESIDEN DIREKTUR DI PERUSAHAAN INI.. TAHU……!!!”
Parto ternyata tidak kalah gertak dan membalas,
Parto : “Oh.. Ya….! tahu dengan siapa Bapak bicara sekarang ini ….?”
Telepon : “Tidak…!!”
Parto : “Syukurlah kalau begitu…” dan langsung menutup ganggang teleponnya.

akhirnya datang juga (di pondok pinang)

setelah beberapa lama vakum dari pengajian 2 mingguan, akhirnya kawan-kawan  bisa bersilaturahim kembali di kediaman babeh “Chudlari”, tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mulai menghidupkan kembali kegiatan rutin pengajian yang dulu pernah kita laksanakan..

bedanya , pengajian hari ini dilaksanakan pada malam hari dan dihadiri oleh 2 kawan baru dari adik kelas kita…..

semoga kita bisa istiqomah.

Anda Dan Sang Kholik.

Orang sering sulit dimengerti, tidak pikir panjang dan selalu
memikirkan diri sendiri, namun demikian … ampunilah mereka.

Bila anda baik hati, orang mungkin menuduh anda egois, atau
punya mau, namun demikian … tetaplah berbuat baik.

Bila anda sukses, anda akan menemui teman-teman yang tidak
bersahabat, dan musuh-musuh sejati anda, namun demikian …
teruskan kesuksesan anda.

Bila anda jujur dan tulus hati, orang mungkin akan menipu anda;
namun demikian … tetaplah jujur dan tulus hati.

Hasil karya anda selama bertahun-tahun dapat dihancurkan orang
dalam semalam; namun demikian … tetaplah berkarya.

Bila anda menemukan ketenangan dan kebahagiaan, mungkin ada
yang iri; namun demikian … syukurilah kebahagiaan anda.

Kebaikan anda hari ini gampang sering dilupakan orang; namun
demikian … teruslah berbuat kebaikan.

Berikanlah yang terbaik dari anda dan itu pun tidak akan
pernah memuaskan orang, namun demikian … tetaplah memberi
yang terbaik.

Pada akhirnya ….

Perkaranya adalah antara anda dan Sang Kholik …
dan bukan antara anda dan mereka.